Rabu, 06 Februari 2013

Secuil Harapan yang Terhalang



Suatu hari, Toni dan ibunya berbincang-bincang di dapur rumahnya sambil membuat kue yang biasa dijual oleh ibu Toni. “ mak…..ta..tadi pak guru minta uang SPP yang belum dibayar. Kata pak guru kalau dalam waktu 1 minggu belum dibayar, Toni harus keluar dari sekolah” pinta Toni kepada ibunya. “iya nak, ibu akan usaha cari pinjaman ke pak Broto” ibu Toni pun pergi ke rumah Pak Broto dengan harapan Pak Broto dapat meminjaminya uang untuk membayar sekolah Toni. Sesampainya dirumah, Toni segera menyambut kedatangan ibunya dengan pertanyaan “gimana mak? Pak Broto mau minjamin uang?” “tidak nak, katanya usaha Pak Broto sedang bangkrut. Yaudah besuk ibu akan usaha” seperti biasa, setelah pulang sekolah Toni selalu mengamen di pinggir jalan, Toni selalu ingat perkataan ibunya “bernyanyilah dengan indah, maka orang akan membayar karena suaramu, bukan karena kasihan”. Pada saat Toni sedang istirahat,ia melihat dua orang preman sedang mencoba merampok seorang wanita yang menaiki mobil yang sedang berhenti karena lampu merah sedang menyala, ia langsung menghampiri wanita itu dan berpura-pura mengamen di depan wanita itu,akhirnya preman tersebut merasa terganggu karena Toni, dan lampu hijau pun menyala kemudian mobil yang dikendarai wanita tersebut melaju kencang.
Keesokan harinya, seperti biasa pulang dari sekolah, Toni langsung menuju jalan raya untuk mengamen. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghampirinya, ternyata, wanita yang ada dimobil tersebut adalah ibu Dina orang yang Toni tolong kemarin, wanita tersebut memberikan kartu namanya dan mengundang Toni untuk datang ke rumahnya nanti sore sebelum pukul 17.00 WIB.
Setelah sampai dirumah, Toni langsung memakai pakaian terbaiknya untuk pergi ke rumah Ibu Dina rumah ibu Dina sangat luas yang lantainya berlapis batu marmer. Ia berfikir bahwa Ibu Dina akan menolongnya untuk membayar biaya sekolahnya. Setelah sampai dirumah Ibu Dina, Toni diberi sebuah kotak besar dan langsung disuruh pulang oleh Ibu Dina. Mulai saat itu Toni berfikir bahwa Ibu Dina tidak sebaik yang ia fikirkan. Dan setelah kotak tersebut dibuka isinya sepasang seragam merah putih dengan jahitan tangan horizontal dibagian punggungnya. Toni tidak sanggup untuk memberitahukan akan hal tersebut kepada ibunya, baginya ibunya jauh  lebih kaya daripada Ibu Dina.
Akhirnya mereka berusaha lebih giat untuk membayar sekolah Toni, dan mereka tidak menginginkan atau berharap kepada seseorang untuk memberi mereka sesuatu yang belum tentu lebih baik daripada apa yang telah mereka usahakan.
TAMAT......
           
Karya : Puti Novia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar